Select Menu

Favourite

HARI BELA NEGARA

HARI BELA NEGARA

NASIONAL

PUSAT

SENKOM INFORMATION CENTER

SPACE IKLAN

POLDA

KLATEN

BERITA

SPONSOR

TELEMATIKA

JAWA TENGAH

RESCUE

INFO



Banjarnegara | Universitas Gadjah Mada (UGM) memasang peralatan peringatan dini bahaya tanah longsor di Banjarnegara pada Sabtu (20/12). Peralatan peringatan dini tanah longsor atau Landslide early warning system (LEWS) juga terpasang di beberapa wilayah. Dari 10 unit LEWS yang akan dipasang UGM terdistribusi di Banjarnegara 5 unit, Kulonprogo 1, Bandung Barat 1, Pekalongan 1, Banyumas 1, dan Magelang 1. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) - Badan Geologi akan memasang10 unit LEWS di Wonosobo 5 unit, Jawa Barat bagian Selatan 4, dan Magelang 1.
Sebelumnya UGM bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pertamina telah memasang 14 LEWS  di beberapa tempat yaitu Banjarnegara 1 unit, Karanganyar 2, Situbondo 1, Sulawesi Utara 1 Tasikmalaya 1, Garut 1, Tanggamus 1, Argomakmur Bengkulu 1, Baturaja 1,Sungai Penuh 1, Sumatera Utara 1, Kalimantan Selatan 1, dan Sulawesi Srelatan 1, sedangkan PVMBG telah memasang 5 unit di Karanganyar 1 unit, Purworejo 1, Cilacap 1, dan Magelang 2. Sementara itu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah memasang 2 unit di Agam dan Balikpapan, dan LIPI memasang di Garut.
Kepala BNPB Syamsul Maarif langsung memimpin pelaksanaan pemasangan peralatan LEWS seperti yang diperintahkan Presiden Jokowi saat Sidang Kabinet Terbatas pada Rabu (17/12). Saat ini Kepala BNPB masih berada di Banjarnegara untuk membahas penanganan darurat dan pemulihan dari longsor di Dusun Jemblung, Banjarnegara.
Semua LEWS tersebut adalah karya anak bangsa Indonesia sehingga perlu diapresiasi dan digunakan. Bahkan Pemerintah Myanmar pernah membeli LEWS produk UGM untuk dipasang di Myanmar pada tahun 2012. Hendaknya pemda yang memiliki daerah rawan longsor memanfaatkan peralatan ini karena sangat diperlukan masyarakat. Begitu juga dengan dunia usaha melalui program CSR (Corporate Social Reponsibility) dapat juga membangun sistem peringatan dini longsor atau bencana lainnya. Jika selama ini bantuan diberikan saat tanggap darurat maka dapat dialihkan dalam bentuk pencegahan bencana dengan peringatan dini.
Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB
Klaten | Hingga sabtu dini hari,ribuan warga ditiga dusun di desa wiro masih terendam luapan sungai kuning,yang merupakan anak sungai dengkeng.tig  dusun yakni mandungan,pilang,sari,jonggrangan sekitar 300 kk atau 1200 jiwa.
Kepala desa wiro,agus riyadi,tanggul sungai kuning sudah banyak yang kritis.ada delapan titik yang tergerus sehingga kritis.hingga dini hari INI,air mencapai ketinggian 1 meter.
Warga juga mengevakuasi ternak mereka yang ada dimandungan yang terendam air.
Kepala pelaksana Bpbd,sri winoto,bersama dandim Klaten,dan kabagops polres Klaten serta kapolsek bayat langsung melakukan sidak ke desa yang terbenam air.
Sri winoto mengungkapkan selain di wiro bayat,di kalikebo trucuk juga mengenangi perkampungan.
pusdalops

Klaten | Hujan deras di wilayah Klaten mengakibatkan tanggul sungai padangan yang selasa malam sudah jebol,jumat sore kembali jebol pada titik yang sama.akibatnya ratusan hektare tanaman padi dipastikan mati karena sudah dua Kali terendam air.
Jumat sore Kalak Bpbd,sri winoto,camat cawas,muh nasir,kades burikan sedang meninjau tanggul yang jebol.

Kades burikan,maryadi,mengungkapkan hujan deras dua jam di cawas dan gunungkidul mengakibatkan  sungai padangan meluap. Luapan air diperkirakan lebih besar dibandingkan hari selasa kemarin.
Maryadi memperkirakan,padi yang terbenam air akan mati karena tanaman padi usia satu bulan ini Sudah terbenam empat hari dari hari selasa malam.

Kepala pelaksana bpbd klaten sri winot mengungkapkan  hujan jumat sore intensitasnya memang sang at deras  merata di klaten.beberapa jalanan di wilayah Klaten juga terendam air setinggi satu meter.Beberapa rumah di perumahan Sangkal putung air sempat masuk rumah warga setinggi 40 cm dcawas,pihaknya  mengaku sudah mengecek langsung sore in bersama pak camat.

Pihakanya berencana melakuian langkah langkah darurat guna menutup tanggul yang iebol.tanggul darurat dari kantong sak Bpbd dan bambu tidak kuat menahan derasnya arus sungai.

pusdalops

Klaten -- Menghadapi natal dan tahun baru 2015 Polres Klaten menggelar rapat koordinasi lintas sektoral tentang pelaksanaan Operasi Lilin Candi 2015 di aula Satya Haprabu Mapolres Klaten jumat 19 desembar 2014.Rapat di pimpin langsung oleh Kapolres Klaten AKBP Langgeng Purnomo S.I.K dan di hadiri dari  muspida kabupaten Klaten,TNI, instansi terkait dan ormas,tokoh agama & masyarakat sebagai pendukumg opersi lilin ini di antaranya Dishub, Linmas, Banser, Orari, Senkom Mitra Polri, PMI, dll

Dalam Sambutannya dihadapan para peserta Rapat Lintas sektoral ini Kapolres Klaten menyampaikan bahwa natal dan tahun baru merupakan agenda rutin tahunan dalam kegiatan masyarakat, namun tidak boleh dipandang ringan setiap kerawanan dan ancaman yang ada dalam setiap agenda kegiatan masyarakat tersebut, sehingga semua elemen harus selalu bersinergi dalam mengawal agenda masyarakat agar dapat berjalan dengan aman, tertib dan kondusif.
Dalam menghadapi datangnya perayaan Natal 2014 dan tahun baru 2015 dalam Operasi Lilin Candi 2014 ini Polres Klaten menerjunkan sedikitnya 650 Personil pengamanan baik terbuka maupun tertutup yang akan di sebar di 161 Gereja yang ada di wilayah Kabupaten Klaten, dan Pos Pengamanan di 3 Titik yaitu di simpang empat Karang, Alun-alun Kab. Klaten dan Pos pengaman Prambanan.

Dalam rakor linsek tersebut Kabag Ops Polres Klaten Kompol Danu memaparkan tentang ancaman dan titik –titik rawan yang harus diwaspadai dalam ops Lilin Candi 2014 ini.Dengan adanya rapat lintas sektoral ini, diharapkan terjadi sinergitas dan kerjasama yang baik antar instansi, yang mana dapat bermuara pada kondusifitas maupun ketertiban di tengah masyarakat khususnya di Kabupaten Klaten, yang melaksanakan natal 2014 dan merayakan tahun baru 2015 nanti.




Klaten -- Hari Bela Negara (HBN) adalah hari bersejarah Indonesia yang jatuh pada tanggal 19 Desember untuk memperingati Deklarasi  Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh M. Sjafruddin Prawiranegara di sumatra Barat pada tanggal 19 Desember 1948. Keputusan ini ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden No. 28 Tahun 2006.  Keputusan presiden ini ditetapkan dalam  upaya mendorong semangat kebangsaan dalam Bela Negara dalam rangka mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang memjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Bertepatan dengan Hari Bela Negara ini Senkom Kabupaten Klaten mengirimkan surat ucapan hari bela negara ke semua Koramil yang ada di kabupaten Klaten yang berjumlah 24 koramil.Dengan ucapan ini harapannya Senkom yang ada di Klaten ini semakin merapatkan barisan dalam upaya menjaga kamtibmas baik dengan Kepolisian maupun dengan TNI.Dari masing masing Koramil yang di datangi semua mengucapkan dan mengapresiasi pada Senkom yang selalu berpatisipasi aktif koordinasi dan di harapkan semakin hubungan yang baik ini selalu terjaga ucap Danramil Manisrenggo Kapt Inf Masidi.

Dan hari ini tanggal 19 desember juga merupakan hari ulang tahun Infanteri pengurus Senkom Klaten yang di wakili oleh Sugiarto, Rusgiyanto,dan Teguh Purwanto Ketua Senkom Manisrenggo mengucapkan selamat pada jajaran TNI yang ada di Koramil 12 Manisrenggo.Dan semoga dengan hari Bela Negara ini kita sebagai penerus Bangsa haruslah tetap menjaga dan menbela Negara Indonesia. Bela bukan dalam arti berperang tetapi menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia.(rio)


Hari Bela Negara (HBN) adalah hari bersejarah Indonesia yang jatuh pada tanggal 19 Desember untuk memperingati Deklarasi  Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh M. Sjafruddin Prawiranegara di sumatra Barat pada tanggal 19 Desember 1948. Keputusan ini ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden No. 28 Tahun 2006.  Keputusan presiden ini ditetapkan dalam  upaya mendorong semangat kebangsaan dalam Bela Negara dalam rangka mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang memjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Tanggal 19 Desember 1948 menjadi salah satu hari yang bersejarah bagi bangsa indonesia, dimana pada waktu itu di deklarasikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berpusat di Bukittinggi, Sumatra Barat. PDRI dibentuk oleh rakyat yang dipelopori oleh M. Sjafruddin Prawiranegara dalam rangka mengisi kekosongan kepemimpinan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), setelah presiden dan wakil presiden serta sejumlah menteri ditawan oleh Belanda. Namun dalam kondisi amat kritis tersebut, para pemimpin bangsa pada waktu itu mengambil satu keputusan memberikan mandat untuk membentuk Pemerintahan darurat Republik Indonesia di Sumatra Barat. Jika PDRI tidak ada, mungkin dapat dikatakan Republik Indonesia akan lenyap dalam peta politik dunia.  Bahkan, penjajah Belandapada waktu itu dengan leluasa mengatakan bahwa pemerintahan Indonesia telah bubar karena pemimpinnya ditawan dan daerah-daerah jatuh ditangan mereka.

Dengan inisiatif politik dan penuh rasa tanggung jawab Sjafruddin Prawiranegara mengadakan rapat membentuk PDRI tanggal 19 Desember 1948. Pemerintah Darurat yang bersifat mobile ini berbasis pada beberapa tempat antara lain Bidar Alam, Sumput Kuddus, Halabban, Dan koto tinggi. Inisiatif  M. Sjafruddin Prawiranegara mendapat dukungan luas dari kalangan rakyat. Pada akhirnya kedaulatan dan kemerdekaan RI dapat dipertahankan. Oleh sebab itu PDRI merupakan salah satu mata rantai sejarah kemerdekaan Indonesia yang sangat penting untuk kita kenang, ingat, dan ditempatkan dalam rangkaian sejarah kemerdekaan Nasional.

Meskipun PDRI tidak pernah ditampilkan secara resmi, namun selama ini tidak diakui sebagai mata rantai sejarah perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahun 2006, atas usulan pemerintah provinsi Sumatra Barat kepada Pemerintah Pusat, akhirnya Presiden SBY mengeluarkan Keputusan No. 28 Tahun 2006. Dengan lahirnya Kepres No.28 Tahun 2006, berarti perjuangan rakyat Indonesia umumnya dan Sumatra Barat khususnya telah mendapat pengakuan secara nasional.

Deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia oleh M. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatra Barat telah disah kan. Salah satu diskriminasi sejarah mulai diluruskan. Bahkan, perlakuan negara terhadap jasa besar seseorang terhadap eksistensi bangsa Indonesia telah dinilai objektif dan profesional. Sebagai contohnya  M. Sjafruddin Prawiranegara yang sempat menjadi Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) telah diakui keberadaannya. Padahal pada masa  Orde Baru, otkoh yang terkait dengan gejolak pemerintahan revolusioner Republik Indonesia (PRRI) ini dianggap pemberontak. Sampai-sampai salah satu rentetan sejarah Republik ini dihilangkan tanpa jejak.

M. Sjafruddin Prawiranegara selain jasanya sebagai presiden PDRI, dia juga ikut memberi konstribusi besar terhadap kemunculan Bank Indonesia. Ia mengusulkan supaya BI sebagai Bank sentral yang menjadi lembaga Independen dan tidak dibawah dominasi Pemerintah.  Dan pada tahun 1999, yakni pada masa pemerinyahan BJ. Habibie, gagasan M. Sjafruddin Prawiranegara menjadi landasan Undang-Undang BI. Ditetapkannya hari PDRI sebagai Hari Bela Negara (HBN) merupakan satu bentuk kebanggaan Sumatra Barat, karena pertama kalinya sejarah dipulau jawa ditetapkan sebagai hari nasional.Untuk itu kita sebagai penerus Bangsa haruslah tetap menjadga dan menbela Negara Indonesia. Bela bukan dalam arti berperang tetapi menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia.

Diambil dari berbagai sumber.
Pemerintah punya alasan yang kuat untuk melarang warga berwisata di lokasi bencana. Sudah menjadi kelaziman setiap kali bencana melanda suatu wilayah, maka tak lama kemudian akan berbondong-bondong warga yang menontonnya. Di sana, bukan hanya lokasi, namun masyarakat terdampak bencana pun menjadi tontonan.
Hasil penelitian para ahli menunjukkan, masyarakat melakukan hal itu karena ada dorongan keingintahuan mengenai dampak bencana yang terjadi. Faktor simpati yang dimiliki oleh seseorang akan mendorongnya untuk melakukan tindakan berwisata ke lokasi bencana. Di sisi lain, rasa haru dan belas kasihan terhadap orang lain juga menjadi pendorong kehadiran seseorang di tempat terjadinya musibah.
Longsor yang baru saja terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara adalah salah satu contoh bagaimana aktivitas menonton bencana berubah menjadi petaka.
Menurut salah seorang penduduk, beberapa hari sebelum terjadi longsoran yang besar, banyak warga datang ke lokasi longsor lain yang lebih kecil. Pada saat warga ini beranjak pulang, mereka melintasi Desa Sampang. Sayang, detik itu pula longsor yang besar terjadi dan melanda mereka.
Di Sampang, korban bukan hanya warga Dusun Jemblung, namun juga mereka yang melintasi ruas jalan sepulang dari berwisata ke lokasi longsor.
Hari Minggu (14/12) adalah dua hari setelah longsor besar terjadi. Ribuan relawan dan petugas bahu membahu melakukan proses evakuasi para korban. Di saat yang sama, ribuan warga yang lain datang dari berbagai penjuru untuk menonton. Mereka datang lengkap satu keluarga dengan putra putri tercinta.
Para orang tua mengajak anak-anaknya untuk menonton lokasi bencana. Mereka menjadikan zona bahaya tak ubahnya seperti taman bermain. Abai pada keselamatan buah hatinya.
Berada di lokasi bencana bukanlah perkara yang mudah. Keahlian diperlukan, peralatan standard dan melindungi para relawan maupun petugas pun menjadi satu keharusan. Rekaman video ini menampilkan kesulitan menembus medan longsor.
Urukan tanah hasil dari proses longsor yang terjadi masih sangat labil. Belum lagi banyak serpihan bangunan, perkakas, paku, pecahan kaca, logam, dan material lain yang bersembunyi di balik gemburnya tanah. Bila Anda tak hati-hati melangkah, kaki atau bahkan tubuh Anda bisa terbenam di lumpur. Sepatu Anda tertinggal, pecahan kaca menusuk kulit, penyakit ikutan yang lain pun mengancam kemudian.
Medan bencana adalah zona yang berbahaya. Area ini seharusnya steril dari warga dan hanya bagi mereka yang memiliki keahlian serta terdaftar saja yang bisa memasukinya. Warga hendaknya sadar, lokasi ini bukan taman bermain atau tempat wisata.
sumber: BNPB