Select Menu

Favourite

DIRGAHAYU TNI KE 70

NASIONAL

HUT TNI KE 70

PUSAT

SENKOM INFORMATION CENTER

SPACE IKLAN

POLDA

KLATEN

BERITA

SPONSOR

SPONSOR

TELEMATIKA

JAWA TENGAH

RESCUE

INFO

KLATEN | Sebanyak 3 Ribu relawan dari berbagai unsur meliputi TNI, POLRI, Senkom, Banser, Kokam, BPBD, Pemerintah Kecamatan, Pemkab Klaten, Pelajar dan warga sekitar melakukan gerakan bersih-bersih di sungai Ujung yangmemiliki panjang lebih dari 4 km dan melintasi 4 Desa yakni Desa Kalitengah, Pandes, Gadungan Kecamatan Wedi dan di Desa Pakahan Kecamatan Jogonalan.Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Jaka Salwadi mengatakan, kegiatan bersih-bersih sungai tersebut merupakan dalam rangka memperingati hari bumi dan Masyarakat, pemerintah Kecamatan, pemerintah desa sudah membuat aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan sungai."Desa telah membentuk beberapa Satgas terkait pengamanan sungai ini, jadi mereka mandiri dan dilaksanakan seluruh desa. khususnya di Kecamatan Wedi ini. Kita gayung bersambut dari Pemkab Klaten, karena dengan adanya gerakan ini, kita dapat mewujudkan sungai yang bersih, kemudian juga ada pemanfaatannya dan terpelihara lingkungannya, serta sebagai bentuk memperingati hari bumi juga," katanya, Minggu (24/4/2016).Sementara itu Ketua Sentra Komunikasi (Senkom) Klaten, yang juga Ketua Peringatan Hari Bumi, H.Heri Wibowo menjelaskan, pihaknya memilih sungai Ujung karena sepanjang aliran sungai banyak terdapat mata air."Pada sungai Ujung yang melintasi 4 Desa ini terdapat banyak mata air, sehingga aliran sungai dapat terjaga, kerusakan lingkungan belum begitu parah dan jumlah kelompok relawan di Kecamatan Wedi paling banyak di Klaten," tambahnya.Selain ribuan relawan bersih-bersih sungai dengan tema Kali Bersih Idamanku, juga dilakukan penebaran 15.000 bibit ikan nila dan melakukan penghijaun dengan menanam 5.000 bibit pohon di pinggir sungai Ujung diantaranya bibit pohon Asem, Trembesi dan Gayam, dan sampah-sampah yang didapatkan dari bersih-bersihsungai tersebut langsung diolah dengan mesin.(sumber)

Peringatan hari bumi bertujuan untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran manusia terhadap planet
Hari Bumi Sedunia merupakan hari pengamatan tentang bumi yang diperingati secara internasional setiap tahunnya pada tanggal 22 April. Hari Bumi pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran manusia terhadap planet yang ditinggali oleh manusia saat ini yaitu bumi. Pertama kali dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, pada tahun 1970. Dia adalah seorang pengajar di bidang disiplin ilmu lingkungan hidup. Tanggal ini sebenarnya bertepatan dengan waktu musim semi di daerah Northern Hemisphere pada belahan Bumi utara dan waktu musim gugur pada belahan Bumi selatan.

United Nation (UN) atau PBB memperingati hari Bumi sedunia pada tanggal 20 Maret yang merupakan sebuah tradisi dari aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969. Tanggal tersebut merupakan hari dimana matahari berada tepat di atas khatulistiwa atau dikenal dengan istilah Ekuinoks Maret. Saat ini hari bumi diperingati oleh 175 negara dan secara global telah dikoordinasi oleh Jaringan Hari Bumi atau Earth Day Network.

Di Indonesia, peringatan atau perayaan Hari Bumi sebenarnya belum banyak diketahui oleh kalangan masyarakat. Hal ini berbanding terbalik dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang selalu diperingati setiap tanggal 5 Juni. Pada dasarnya memang tidak terdapat perbedaan antara Hari Bumi Sedunia dengan Hari Lingkungan Sedunia. Hal yang paling membedakan antara dua hari besar itu adalah sejarahnya saja.

Hari Bumi awalnya diprakarsai oleh masyarakat serta diperingati oleh LSM dan organisasi di bidang pelestarian lingkungan hidup, sedangkan Hari Lingkungan Sedunia diperingati berdasarkan Konferensi UN tentang Lingkungan hidup yang berlangsung pada 5 Juni 1972 di Stockholm.  Tanggal konferensi tersebut kemudian ditetapkan menjadi Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Indonesia berpartisipasi dalam konferensi tersebut dan diwakili oleh Prof. Emil Salim yang menjabat sebagai Kepala Bappenas. Hari Lingkungan Hidup Sedunia dianggap lebih resmi dan sering diperingati oleh masyarakat maupun pemerintah di sejumlah negara di dunia. Tujuan dasar dari kedua peringatan hari besar tersebut adalah untuk merangsang kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup yang semakin hari semakin rusak.

Hari bumi kebanyakan hanya diketahui dan diperingati para aktifis peduli lingkungan saja di seluruh dunia. Di sisi lain, peringatan hari Bumi sedunia sering dianggap sebagai ajang berkumpulnya para aktivis namun minim tindak lanjut secara nyata di lapangan. Berbagai kerusakan lingkungan hidup di bumi telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup serta mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam seperti longsor, banjir, angin topan, kekeringan, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Kerusakan lingkungan disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampak negatifnya pun akan dirasakan oleh manusia juga. Kesadaran masyarakat cenderung menurun untuk menjaga, merawat, serta melestarikan lingkungan hidup. Upaya untuk melestarikan lingkungan hidup tidak hanya tanggung jawab perorangan saja, akan tetapi tanggung jawab dari semua pihak yang hidup di bumi ini.

Kesadaran untuk melestarikan lingkungan hidup seharusnya ditanamkan sedini mungkin dan harus berkesinambungan atau tak lekang oleh waktu. Hal ini tidak terlepas dari kesadaran sosial yang dapat ditumbuhkan melalui penyuluhan atau pemberian informasi yang lengkap tentang pelestarian lingkungan kepada masayarakat umum. Selain itu, perubahan iklim di bumi sangat sulit untuk dicegah meskipun berbagai upaya antisipasi dan pencegahan telah banyak dilakukan. Keadaan ini memaksa manusia untuk dapat beradaptasi dengan perubahan iklim tersebut. Salah satu caranya  adalah dengan mengubah perilaku yang merusak alam menjadi perilaku yang selalu cinta dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

KLATEN | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng menggelar pelatihan darurat bencana bagi relawan di Gedung KPRI Klaten, Sabtu (23/4). Kegiatan diikuti seratus relawan untuk peningkatan kapasitas relawan. Tampil sebagai pembicara Kepala Pelaksana BPBD Jateng, Sarwa Pramana, dari Tagana Dinsos Jateng, PMI Klaten, Kodim 0723 Klaten dan BPBD Klaten. Salah satu masalah yang dibahas adalah pentingnya posko dan peran media sosial dalam kecepatan penanganan bencana. “Twitter, whatsapp, dan lainnya bisa mempercepat pengaduan bencana yang nantinya bisa berdampak pada kecepatan penanganan. Seumpama ada penanganan pohon tumbang saja, gubernur pun tahu,” kata Sarwa Pramana. Di era seperti ini, tak perlu urusan penanganan bencana dipersulit birokrasi. Masyarakat bisa langsung menghubungi posko agar cepat. Hebatnya, semua daerah di Jateng sudah melampirkan nomor posko di media sosial. Sarwa menekankan pentingnya pembagian tugas relawan dalam penanganan di lapangan. Semua pos punya peran yang sangat penting mulai dari relawan evakuasi, kesehatan, dapur umum sampai bagian terapi healing untuk menyembuhkan trauma korban. Dia memuji gerakan Klaten yang mempunyai banyak kelompok relawan dan konsen dengan gerakan bersih sungai yang tidak mendapat alokasi dana APBD. Klaten bisa menggali dana dari kalangan dunia usaha lewat program CSR.
(Sumber)

JAKARTA (11/4/2016) – Sebanyak 2000 (dua ribu) personil  Senkom Mitra Polri mengikuti Pendidikan dan Latihan Nasional (Diklatnas) Bela Negara dan Kamtibmas, yang digelar selama tiga hari mulai hari Selasa tanggal 12-14 April 2016, di Gedung Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur.

Acara akan dibuka oleh Menteri Pertahanan Jendral (Purn) Ryamizard Ryacudu, yang didampingi Kapolri, Panglima TNI dan sejumlah Menteri.

Diklatnas Bela Negara dan kamtibmas Senkom Mitra Polri tahun ini bertema, “PENINGKATAN KEMAMPUAN, PERAN DAN KEMITRAAN SENKOM MITRA POLRI UNTUK MENJADI ORGANISASI PROFESIONAL DAN BERKARAKTER”.  Para peserta berasal dari perwakilan pengurus di seluruh Indonesia, yang keberangkatannya mengikuti Diklatnas ini dilepas oleh para pimpinan kepolisian dan satuan perangkat kerja di daerah masing-masing sesuai tingkatan yaitu Provinsi, serta Kabupaten dan Kota.

“Penting bagi senkom untuk melaksanakan program-program yang terintegrasi secara nasional, sehingga dalam setiap pergerakannya memiliki acuan LEBIH terarah dalam mencapai visi misi organisasi, serta dapat berkolaborasi, bekerjasama dan kegiatan - kegiatannya terintegrasi dengan rencana program pemerintah yang dilakukan melalui lembaga-lembaga negara seperti KEMHAN, polri, tni, kemendagri, kemenkominfo dan lain-lain,”  terang Ketua Umum Senkom Mitra Polri, Muhammad Sirot, S.H, S,IP., terkait tema kegiatan diklatnas.

Materi Bela Negara dan Kamtibmas merupakan materi pokok yang diberikan dalam pelatihan-pelatihan Senkom, namun kali ini Bela Negara lebih ditekankan lagi sebagai bentuk dukungan terhadap Kemhan dalam rangka membentuk 100 juta Kader Bela Negara.

“Malaysia yang penduduknya 30 juta membentuk 8 juta kader Bela Negara yang diwadahi dalam Pasukan Rela. Kita dengan jumlah penduduk lebih besar dan wilayah kedaulatan lebih luas tentunya juga harus memiliki kader lebih banyak lagi. Bela Negara adalah hak setiap warga Negara, dan Senkom terpanggil untuk itu sebagai komitmen dalam berbangsa dan bernegara, serta sebagai upaya warga Negara untuk berkontribusi memberikan pengabdian kepada negaranya,” tutur Muhamad Sirot.

Sementara itu dalam bidang Kamtibmas, Senkom Mitra Polri dengan segenap sumber daya yang dimiliki, setiap hari selama 24 jam melakukan pantauan kamtibmas di lingkungan masing-masing, dan melaporkan melalui jalur koordinasi yang ada. Sedangkan setiap pagi, dilaksanakan laporan situasi (lapsit) Kamtibmas dan kebencanaan secara nasional, dengan peralatan komunikasi analog dan digital yang telah dimodifikasi sehingga minimal berbekal radio genggam (HT) maka seorang anggota Senkom dapat melaporkan situasi di lingkungannya, maupun berkomunikasi dalam lingkup nasional, bahkan lintas Negara.

Materi selama tiga hari diklat akan diberikan oleh Kemhan, Kemenko PMK, Mabes TNI, Mabes Polri (Baharkam, Dit Intelkam, Div IT, BNN, Korlantas), Kemenkominfo, Kemendagri, BNPB, BASARNAS dan lain-lain.

HUMAS : 081585792280 | humas@senkom.or.id | www.senkom.or.id| telegram.me/turnbackcrime

Jakarta (12/4/2016)- "Senkom Mitra Polri dalam perjalanan selama 12 tahun ini memberikan pendidikan dan latihan di seluruh tingkatan dengan tiga klaster materi utama yang disampaikan bersamaan yaitu Kamtibmas, Kebencanaan dan Bela Negara. Maka dengan adanya MoU dengan Kemhan pada tanggal 12 februari lalu dan diklatnas ini, mempertegas komitmen Senkom sebagai potensi pertahanan atau Bela Negara, sejalan dengan program yang sedang digiatkan pemerintah,” ujar Ketua Umum Senkom (Sentra Komunikasi) Mitra Polri, Muhamad Sirot, di Aula Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Selasa (12/4/2016).

Sebagaimana diketahui sekitar dua bulan silam atau tepatnya pada hari Jum'at (12/2/2016), Senkom (Sentra Komunikasi) Mitra Polri menandatangani nota kesepahaman atau MoU dengan Kementerian Pertahanan, dalam rangka menegaskan komitmen sebagai potensi pertahanan yang siap dilatih, dan diberdayakan bilamana Negara membutuhkan.

Eksistensi Senkom di bidang bela Negara antara lain dibuktikan dengan pendidikan dan latihan yang melibatkan TNI sejak ormas ini berdiri tahun 2004, baik di pusdiklat maupun di tingkat masing-masing provinsi dan kabupaten/kota, serta kegiatan-kegiatan lain dalam operasi militer selain perang (OMSP) bersama TNI.

Arif Nurokhim selaku Sekjen Senkom mengungkapkan, bahwa program bela Negara di Senkom bukan hal baru, dan sudah dilaksanakan di seluruh Indonesia. "Ini sebagai bentuk dukungan Senkom terhadap program pemerintah mengenai Bela Negara, Sebagian pelatih inti Bela Negara juga berasal dari Senkom,” terang Arif.

Komitmen Senkom dalam Bela Negara, terlihat dari sesanti atau semboyannya, NKRI Harga Mati!. Sedangkan dua klaster lainnya, di bidang kamtibmas (Senkom Mitra Polri) memiliki semboyan Menembus Jarak Tanpa Batas, dan Senkom Rescue dengan semboyan Siaga Saat Aman, Ada Saat Dibutuhkan.

Organisasi Senkom selain melakukan kegiatan rutin harian berupa lapoan situasi (lapsit), juga melakukan Rakor Nasional dua kali setiap bulan, dibagi menjadi dua yaitu untuk wilayah Indonesia timur yang meliputi Jawa Tengah hingga Papua, dan Rakornas wilayah barat untuk wilayah Jawa Barat hingga Aceh. “Koordinasi nasional ini penting karena di forum itu disosialisasikan program-program, dilakukan instruksi-instruksi, evaluasi kegiatan, hingga konsultasi berbagai masalah yang ditangani di daerah-daerah. Disamping itu jadi ajang berbagi informasi dan saling berkompetisi mengukir prestasi, karena itulah maka dalam rakornas itu juga dikumpulkan laporan-laporan kegiatan satu bulan yang secara keseluruhan mencapai ratusan, dan menggambarkan betapa semangatnya mereka,” terang Muhamad Sirot.

Beberapa waktu silam Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan menyambut baik dan merasa berbesar hati karena begitu banyaknya komponen masyarakat yang ingin membela negara. Kementerian Pertahanan telah membentuk kader pembina bela negara di 45 kabupaten dan kota secara serentak pada tahun lalu tehadap 4.500 warga sipil yang siap menjadi pembina.

Setiap tahun, Senkom memiliki kemampuan melatih sekitar 70ribu anggotanya di seluruh Indonesia, yang dikemas dalam diklat dan orientasi anggota, yang dilaksanakan di 34 propinsi. Setidaknya hal itu terbukti pada tahun 2013 lalu ketika dilaksanakan orientasi anggota baru dengan materi Bela Negara, Kamtibmas dan Rescue.

HUMAS: 081585792280 (Mahar Prastowo) | humas@senkom.or.id | www.senkom.or.id | telegram.me/turnbackcrime

Jakarta (12/4/2016) - Organisasi Senkom (Sentra Komunikasi) Mitra Polri dari masa ke masa mengalami dinamika yang semakin baik dalam kinerja keorganisasian, maupun peran di masyarakat. Salah satu peran Senkom ialah dalam kebencanaan melalui klaster Rescue atau Senkom Rescue, yang melakukan tugas dan fungsi kemanusiaan mulai dari mitigasi, evakuasi hingga rehabilitasi dalam kebencanaan.

Dalam sejarahnya, Senkom Rescue terbentuk satu tahun setelah Senkom didirikan yaitu 1 Januari 2005. Kala itu, Senkom yang baru setahun merasa terpanggil untuk melakukan aksi kemanusiaan dalam kejadian bencana tsunami di Aceh.

Mendadak sebagai relawan korban tsunami saat itu, Senkom menemukan begitu banyak kekurangan dalam bekal keterampilan maupun pengetahuan tentang kebencanaan. Maka sejak itu, dilaksanakanlah berbagai kegiatan pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan sebagai relawan kebencanaan, dengan melibatkan BASARNAS dan BNPB, maupun badan lain.

Untung Maulana, salah satu ketua Senkom yang mebidangi kebencanaan menyatakan, sejak peristiwa tsunami itu Senkom melatih anggotanya agar tidak gagap ketika terjadi bencana. “Berdasarkan data yang diterbitkan BNPB tahun 2015 lalu, potensi Senkom unggul di berbagai hal, diantaranya jumlah SDM relawan terlatih yang tercatat hampir sepuluh ribu orang, serta potensi pendukung lainnya seperti perlengkapan meski jika dihitung dengan frekuensi bencana di Indonesia, maka sangat-sangat kurang,” ujar Untung.

Karena aktifnya Senkom dalam berbagai bencana seperti gempa, banjir, gunung meletus serta kecelakaan transportasi darat, laut serta udara, Senkom mendapatkan penghargaan BNPB, serta penghargaan terkait kegiatan taktis menemukan lokasi pesawat jatuh beberapa waktu lalu.

“Pada dasarnya kami ini hanya organisasi yang menghimpun potensi masyarakat, yaitu mereka yang merasa terpanggil untuk mendedikasikan  dirinya untuk kemanusiaan, maka kami rekrut sebagai relawan, maka diharapkan kepada pemerintah melalui BASARNAS dan BNPB supaya dapat terus memberikan dukungan berupa latihan-latihan dan fasilitas pendukung lainnya,” kata Untung.

Dengan kemampuan utama bidang informasi bagi anggota senkom secara umum, maka informasi kebencanaan ataupun kecelakaan sangat cepat tersampaikan, dengan demikian maka penanganannya juga menjadi lebih cepat.

Setiap tahun, Senkom melaksanakan pelatihan di seluruh Indonesia, yang dikemas dalam diklat dan orientasi anggota, yang dilaksanakan di 34 propinsi. Pada tahun 2013 lalu ketika dilaksanakan orientasi anggota baru dengan materi Bela Negara, Kamtibmas dan Rescue, Senkom dapat melatih sekitar 70 ribu anggota di seluruh Indonesia.

“Jadi dalam satu paket pelatihan itu, kita mendapatkan kader kamtibmas, kader bela negara serta relawan kemanusiaan,” kata Untung Maulana.

HUMAS: 081585792280 (Mahar Prastowo) | humas@senkom.or.id | www.senkom.or.id | telegram.me/turnbackcrime

Washington - Indonesia saat ini dijadikan rujukan (role model) bagi negara-negara berkembang dalam penanggulangan bencana. Keberhasilan Indonesia melakukan penanggulangan bencana telah menginspirasi negara-negara berkembang untuk menjadikan contoh dalam penangana bencana di negaranya. Hal ini dikemukakan langsung oleh James Fleming, Direktur Divisi untuk Asia, Amerika Latin dan Eropa USAID’s Office of US Foreign Disaster Assistance (USAID/OFDA) kepada Kepala BNPB, Willem Rampangilei dan delegasi Indonesia, di Kantor Pusat USAID Washington DC, pada Rabu (30/3/2016). James Fleming mengatakan, “Sejak tsunami Aceh tahun 2004, Indonesia mengalami kemajuan yang luar biasa dalam penanggulangan bencana. Penanganan bencana dapat dilakukan dengan baik, seperti tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, gempa Sumatera Barat 2007, erupsi Gunung Merapi 2010, erupsi Gunung Kelud 2014, dan lainnya. Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID/FODA terus berkomitmen membantu Indonesia dalam penanggulangan bencana. Sebab Pemerintah Indonesia sangat serius menanganinya. Sejak tahun 2013-2015, total bantuan USAID/OFDA ke Indonesia, baik untuk pengurangan risiko bencana dan bantuan darurat bencana mencapai lebih dari US$ 25,4 juta. Kerjasama antara Indonesia dan USAID kita jadikan role model dalam penanggulangan bencana dengan negara-negara lain”, imbuh James Fleming.

Kepala BNPB, Willem Rampangilei, menyampaikan, “Pemerintah Indonesia mengucapkan terima kasih atas bantuan Pemerintah Amerika melalui USAID/OFDA. Pemerintah Indonesia sangat komitmen menanggulangi bencana dengan serius. Ini sebagai wujud bahwa negara hadir melindungi rakyatnya. Bahkan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan nasional. Artinya masalah bencana menjadi arus utama dalam pembangunan di semua sektor."

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB